Ferry tertegun membaca surat wasiat yang dibuat Yanti. Ternyata banyak hal yang belum sempat diketahui tentang sahabatnya itu. Tak lama ponselnya bergetar di saku celana, dan akhirnya air mata yang sejak tadi terbendung dengan sendirinya mengalir setelah
seseorang yang berbicara di ponselnya tadi mengabarkan bahwa Yanti telah menghembuskan nafas terakhirnya beberapa menit yang lalu ketika dia mengalami pendarahan di kepala sesaat setelah operasi selesai.
Rasa tidak percaya kini terlihat jelas di raut muka lelaki itu, dengan kertas yang ada digenggamanya, dia berharap semua ini hanya mimpi. Sesekali dia menarik nafas dalam-dalam dan berusaha mengusap air mata yang terus saja mengucur.
Setelah membaca doa ziarah, Ferry pandangi makam itu sekali lagi dan dia berbicara seakan-akan perempuan itu masih hidup dan hanya terbaring didepannya.
“Aku harap kamu puas sudah membuatku menjadi sesedih ini. Satu yang ingin aku kabarkan tentang mataharimu, bahwa matahari sore ini sedang sendiri, tidak seperti bulan yang setiap malamnya selalu ada bintang menemani, mungkin yang ada hanya beberapa awan mengganggu menghalangi. Tapi matahari tetap tidak perduli, dia tidak pernah mengeluh dan merasa kesepian menjalankan tugas menyinari bunga, rumput-rumput yang ada di halaman belakang dan semua yang ada di atas bumi ini. Matahari juga masih tetap rendah hati, mau berbagi siang dengan malam sehingga selalu saja ada keseimbangan.”
Kemudian Ferry meletakkan setangkai bunga matahari diatas batu nisan Yanti dan melangkahkan kakinya pulang.
Rasa tidak percaya kini terlihat jelas di raut muka lelaki itu, dengan kertas yang ada digenggamanya, dia berharap semua ini hanya mimpi. Sesekali dia menarik nafas dalam-dalam dan berusaha mengusap air mata yang terus saja mengucur.
Setelah membaca doa ziarah, Ferry pandangi makam itu sekali lagi dan dia berbicara seakan-akan perempuan itu masih hidup dan hanya terbaring didepannya.
“Aku harap kamu puas sudah membuatku menjadi sesedih ini. Satu yang ingin aku kabarkan tentang mataharimu, bahwa matahari sore ini sedang sendiri, tidak seperti bulan yang setiap malamnya selalu ada bintang menemani, mungkin yang ada hanya beberapa awan mengganggu menghalangi. Tapi matahari tetap tidak perduli, dia tidak pernah mengeluh dan merasa kesepian menjalankan tugas menyinari bunga, rumput-rumput yang ada di halaman belakang dan semua yang ada di atas bumi ini. Matahari juga masih tetap rendah hati, mau berbagi siang dengan malam sehingga selalu saja ada keseimbangan.”
Kemudian Ferry meletakkan setangkai bunga matahari diatas batu nisan Yanti dan melangkahkan kakinya pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar